Dengan Nama Allah Yang Maha
Pemurah Lagi Maha Penyayang.
41. Dan (ingatkanlah peristiwa) hamba
kami: Nabi Ayub ketika ia berdoa merayu kepada Tuhannya Dengan berkata: " Sesungguhnya Aku diganggu oleh Syaitan
Dengan (hasutannya semasa Aku ditimpa) kesusahan dan azab seksa
(penyakit)".
(Surah
Shad ayat 41)
Diceritakan:
Bahawa Nabi Ayyub bin ‘Ish bin Ishaq a.s adalah bangsa
Roma, sedangkan ibunya adalah anak puteri Nabi Luth a.s. Dan Nabi Ayyub adalah
seorang laki-laki yang pandai, bersih, sopan santun serta bijaksana. Sedangkan ayahnya
seorang yang kaya raya, memiliki ternak, unta, lembu, domba, kuda, keldai dan
himmar, tidak seorang pun di negeri Syam (Syria) yang dapat menyainginya dalam
hal kekayaan.
Ketika dia meninggal dunia, maka semua harata
kekayaannya itu diwariskan kepada Nabi Ayyub a.s. Nabi Ayyub telah berkahwin
dengan Siti Rahmah anak puteri Afrayin putera Nabi Yusuf a.s. Dan Allah telah menguniakan
12 kali kehamilan yang tiap2 kali hamil melahirkan 2 orang anak, seorang
laki-laki dan seorang perempuan.
Kemudian dia diutuskan Allah kepada kaumnya, dan mereka
adalah penduduk Hauran dan Tiih. Allah swt menyempurnakanya dengan budi pekerti
yang baik, lemah lembut selama orang tidak menyalahi, mendustakan, dan
mengingkarinya dalam kemuliaan dirinya dan kedua orang tuanya, ayah dan ibunya.
Maka dia menyampaikan beberapa syariat serta membangun
beberapa rumah ibadat untuk mereka. Dan Nabi Ayyub a.s mempunyai meja makan
yang khusus disediakan untuk tamunya iaitu orang fakir miskin dan tamu lainnya.
Dan Nabi Ayyub, terhadap anak yatim itu ibarat
seorang ayah yang kasih dan penyayang, terhadap janda seperti sang suami yang
memperhatikan kasih sayangnya dan terhadap orang-orang yang lemah seperti
halnya saudara yang mencintai dengan kasihnya.
Dan demikian juga dia (Nabi Ayyub) telah memerintahkan
kepada para wakilnya serta orang-orang kepercayaannya supaya tidak menghalang
halangi tanam tanaman serta buah-buahannya diambil dan dipetik(dari orang-orang
yang mahu memetiknya/mengambilnya).
Dan adalah ternakanya setiap tahun beranak kembar atau
dua-dua namun demikian dia tidak bergembira dengan hal itu sedikitpun dan dia
berkata: “Tuhanku, ini semua adalah
pemberian Engkau kepada para hamba-Mu di penjara dunia ini, maka bagaimanakah
pemberian Engkau di syurga kepada para ahli karamah yang mendapat kemuliaan
dari Engkau, di kampong (Hari yang tiada akhirnya) di mana disediakan
hidangan?”
Dengan itu semua, Nabi Ayyub a.s tampak tidaklah lupa
sedikitpun hatinya bersyukur atas nikmat yang diperolehinya serta lidahnya
tidak lupa berzikir kepada Tuhannya.
Maka Iblis dengki kepadanya, seraya berkata: “Sungguh
Ayyub telah berhasil di dunia dan di akhirat dan Iblis ingin merosak salah satu
atau kedua-duanya; dunia dan akhirat tersebut.
Lalu Iblis terkutuk, di saat itu naik ke langit yang ke
tujuh dan berhenti dimana dia dapat sampai, pada suatu hari dia naik
sebagaimana biasa, maka Allah Yang Maha Perkasa berfirman kepadanya: “Hai Iblis terkutuk! Bagaimana engkau
melihat hambaKu Ayyub? Apaka engkau dapat mengambil daripadanya manfaat
walaupuan sedikit?”
Kata Iblis: “Tuhanku,
sesungguhnya Ayyub mahu menyembahMu kerana engkau telah memberinya kelapangan
hidup(harta yang berlimpah) dan kesihatan; kerana tidak kerana hal itu tentu
dia tidak menyembahMu, maka dia sebenarnya hamba kesihatan.” Firman Allah
swt kepada Iblis: “Engkau dusta!
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui, bahawa sesungguhnya dia menyembah Aku serta
berterima kasih kepadaKu, walaupun dia tidak mempunyai kelapangan rezeki di
dunia.
Kata Iblis: “Tuhanku,
berilah aku kekutan untuk menggoda Ayyub; maka perhatikanlah bagaimana saya
membuat dia lupa mengingatiMu dan menyibukan dia dari berbuat ibadat kepadaMu.”
Maka Allah pun memberikan kekuasaan kepada Iblis
terhadap sesuatunya, kecuali jiwa(hati) dan lidah(ucapanya) Nabi Ayyub.
Maka Iblis kembali dan menuju ke tepi laut lalu berseru
dengan seruan yang sangat keras, sehingga semua bangsa Jin baik laki-laki dan
wanita berkumpul di sisinya seraya berkata:
“Apakah gerangan yang menimpa engkau?” Iblis menjawab: “Sesungguhnya saya mendapat kesempatan yang belum pernah saya perolehi
seperti hal ini, semenjak saya telah berhasil mengeluarkan Adam dari syurga.
Maka oleh sebab itu, bantulah saya dalam memperdayakan Ayyub.”
Maka mereka cepat-cepat bertebaran dan membakar serta
merosakan semua harta kekayaan Nabi Ayyub a.s. Lalu Iblis pergi menemui Nabi
Ayyub a.s yang dia sedang berdiri menunaikan solat di dalam rumah ibadahnya.
Kata Iblis: “Apakah
engkau tetap menyembah Tuhanmu dalam keadaan yang kritikal ini, sesungguhnya
Dia Tuhanmu telah menuangkan api dari langit, yang memusnahkan semua harta
kekayaanmu, sehingga semuanya menjadi abu?” Nabi Ayyub tidak menjawabnya,
sampai dia selesai merampungkan solatnya, lalu berkata: “Alhamdulillah! Dia yang telah memberikan kurnia lalu mengambilnya pula
dari saya.” Lalu dia bangkit kembali memulai solatnya.
Maka Iblis pun pulang dengan tangan hampa, serta merasa
terhina dan menyesali terhadap kegagalannya. Dan Nabi Ayyub itu mempunyai 14
orang anak, lapan lelaki dan enam orang wanita, dan mereka makan setiap harinya
di rumah-rumah saudaranya, sedangkan waktu itu mereka sedang di rumah
saudaranya yang terbesar, namanya Hurmula.
Maka berkumpullah para syaitan dan mengelilingi rumah
itu serta melemparkan kepada anak-anak Nabi Ayyub a.s sehingga mereka itu mati
semuanya di satu meja makan. Di antara mereka, ada yang sedang memasukan sesuap
makanan ke dalam mulutnya dan ada pula yang sedang memegang gelas di tanganya.
Maka Iblis pergi kepada Ayyub, sedangkan dia(Ayyub)
dalam keadaan berdiri menunaikan solat. Kata Iblis: “Apakah engkau tetap menyembah Tuhanmu! dan sesungguhnya Dia telah
melempar ke rumah di mana anak-anak mu berada, sehingga mereka mati semuanya?”
Nabi Ayyub tidak menjawab sedikitpun, sampai dia selesai
mengerjakan solatnya. Lalu Nabi Ayyub berkata: “Hai Iblis terkutuk, Alhamdulillah! Dia telah member dan mengambilnya
pula dari saya. Semua harta dan anak adalah fitnah untuk laki-laki dan wanita,
maka Dia (Allah) mengambilnya dari saya, sehingga saya dapat bersabar lagi
tenang untuk beribadah kepada Tuhan saya.”
Iblis pun kembali dengan tangan hampa, rugi besar dan
terkutuk. Lalu Iblis datang kembali, sedangkan Nabi Ayyub sedang mengerjakan
solat. Maka ketika Nabi Ayyub sujud, Iblis meniupkan di hidung dan mulutnya
sampai badan Nabi Ayyub a.s berkembang dan berpeluh banyak sekali dan dia
merasa badannya menjadi berat.
Berkata isterinya Rahmah: “Ini semua adalah dari sebab dari kesusahanmu terhadap harta yang telah
musnah dan anak-anak yang telah mati, sedangkan engkau tetap beribadah di waktu
malam dan berpuasa di siang hari tanpa henti-hentinya, walaupun satu saat dan
masih juga tidak merasa cukup.” Lalu Nabi Ayyub a.s terkena penyakit kudis
seluruh tubuhnya, mulai dari kepala sampai ke kakinya, bahkan mengalir dari
badannya darah bercampur nanah serta berulat yang berjatuhan dari kudis di
badannya. Sampai-sampai sanak keluarganya dan teman-temannya menjauhkan diri
daripadanya.
Nabi Ayyub a.s mempunyai tiga isteri; maka yang dua
minta cerai dan diapun menceraikannya dan tinggal satu iaitu Rahmah, yang
selalu melayaninya siang malam sehingga datanglah para wanita tetangganya
seraya berkata: “Hai Rahmah! Kami semua
takut kalau penyakit suamimu Ayyub akan menjalar kepada anak-anak kami. Maka keluarkanlah dia dari lingkungan kita
bertetangga ini dan kalau tidak maka kami akan mengeluarkan engkau disini
dengan cara paksa!!”
Maka Siti Rahmah pergi dengan membungkus pakaiannya,
serta membawanya (Nabi Ayyub a.s) dan berseru dengan suara yang keras: “Duhai,berat nian, kami harus pergi
merantau dan berpisah; mereka telah mengusir kami dari negeri kami dan kampong
kami.” Dan dia mendukung Nabi Ayyub di punggungnya sedangkan air mata
mengalir di pipinya, serta pergi jauh sambil menangis ke bekas rumah yang sudah
rosak yang dijadikan tempat pembuangan sampah dan meletakkan Nabi Ayyub di atas
sampah. Lalu keluarlah penduduk desa itu dan mereka melihat keadaan Nabi Ayyub,
maka mereka berkata: “Bawalah suamimu
itu jauh-jauh dari kami, kalau tidak maka akan kami bawakan anjing-anjing kami
biar memakannya.”
Siti Rahmah pun membawanya sambil menangis ketempat yang
jauh dan meletakkannya di tempat itu, kemudian datang lagi dengan membawa kapak
dan tali temali, untuk membuat rumah dari kayu. Kemudian dia datang lagi dengan
membawa rajutan tikar dan menghamparkannya di bawah Nabi Ayyub dan
diambilkannya pula batu untuk bantalnya dan membawa tempat air yang biasa
digunakan oleh para penggembala untuk minum binatang-binatang ternak mereka.
Kemudian Siti Rahmah pergi ke sebuah desa, maka Nabi
Ayyub memanggilnya: “Kembalikan engkau,
dan saya berpesan kepadamu, seandainya engkau hendak pergi bebas dariku dan
akan meninggalkan aku di sini.” Kata Siti Rahmah: “Engkau jangan khuatir, wahai suamiku, sesungguhnya saya tidak akan meninggalkan
engkau selama hayat di kandung badan.”
Siti Rahmah lalu pergi ke sebuah desa dan bekerja setiap
hari memotong roti dan dia dapat memberi makan suaminya Ayyub. Lalu hal itu
diketahui oleh penduduk desa itu, bahawa dia adalah isteri Ayyub. Maka mereka
tidak mahu lagi memberinya pekerjaan, malahan mereka berkata: “Pergilah engkau jauh-jauh kerana kami
merasa jijik kepadamu.”
Maka Siti Rahmah menangis dan berdoa: “ Ya Tuhanku, Engkau talah melihat
keadaanku, sesungguhnya terasa sempit dunia ini bagiku, sedang orang-orang
telah merendahkan kami di dunia ini, maka janganlah Engkau kiranya merendahkan
kami di akhirat kelak, ya tuhanku. Mereka telah mengusir kami dari Rumah Engkau
kelak di hari kiamat.”
Siti Rahmah pun pergi kepada seorang penjual roti sambil
berkata: “Sesungguhnya pujaanku Ayyub
telah lapar, maka sudilah kiranya engkau memberikan hutang kepada saya berupa
roti?” kata wanita itu: “Pergilah
engkau jauh-jauh dari saya, supaya suamiku tidak melihatmu, tetapi berilah
ikatan sanggulmu.” Siti Rahmah mempunyai dua belas kepang rambut yang
panjangnya sampai ke tanah. Panjang rambutnya yang ikal itu indah sekali, sama
dengan yang didapatkan oleh Nabi Yusuf a.s.
Nabi Ayyub sangat senang sekali dengan sanggul ikal
tersebut. Maka datanglah wanita penjual roti dengan membawa gunting dan
memotong kepang rambut serta memberikan 4 potong roti kepada Siti Rahmah. Kata
Siti Rahmah: “Wahai Tuhanku,
sesungguhnya perbuatanku ini hanya lah kerana ketaatanku kepada suami dan untuk
memberi makan kepada Nabi Mu, maka telah ku jual rambutku.”
Maka ketika Nabi Ayyub melihat roti yang masih segar
serta utuh, dia sangat memperhatikannya dan menyangka bahawa isterinya telah
menjual dirinya maka dia bersumpah, seandainya Allah telah menyembuhkannya, dia
akan memukul isterinya 100 jilid.
100 jilid itu seperti yang kemudian difirmankan Allah
swt sebagai tebusan dari sumpahnya:
“Dan ambillah
dengan tanganmu seikat rumput, lalu pukulkanlah kepadanya(isterimu) dan kamu
tidak terkena sumpah.”
Ketika hukuman itu telah dilaksanakan, maka Nabi Ayyub
menangis seraya berkata: “Wahai tuhanku!
Telah hilang daya upaya ku, sehingga sampai sebuah persoalan, isteri Nabi Mu
telah menjual rambutnya, semata-mata untuk memberi nafkah untuk diriku.”
Kata Siti Rahmah: “Wahai
suamiku, janganlah engkau bersusah hati pada hari ini, sesungguhnya rambut ku
itu akan tumbuh kembali dengan lebih baik(indah) daripada yang sudah.” Lalu
Siti Rahmah memotong roti dan memberikan makan kepadanya serta duduk
disampingnya.
Adalah Nabi Ayyub, tiap-tiap ada ulat yang terjatuh dari
badannya, maka diambilnya dan diletakkannya kembali dibadanya dan dia berkata: “Makanlah olehmu setiap apa-apa yang telah
direzekikan kepadamu oleh Allah swt.” Maka tidak tertinggal dagingnya dan
hanyalah tinggal tulang-belulang yang dilapisi kulit dengan jaringan saraf saja
yang Nampak.
Apabila matahari menyinarinya, maka sinar itu
seakan-akan tembus dari bahagian badannya yang tetap utuh adalah hati dan
lidahnya. Hatinya tidak pernah kosong dari rasa syukur kepada Allah dan lidahnya
tidak pernah diam dari zikir kepada Allah.Ada diriwayatkan bahawa Nabi Ayyub
mengalami sakit seperti itu selama 18 tahun.
Pada suatu hari Siti Rahmah berkata kepada Nabi Ayyub: “Engkau adalah seorang Nabi yang mulia
terhadap Tuhanmu, seandainya engkau berdoa kepada Allah swt supaya Dia (Allah)
menyembuhkanmu?” Kata Nabi Ayyub a.s kepada Siti Rahmah: “Lapan puluh tahun.” Kata Nabi Ayyub: “Sesungguhnya saya merasa malu kepada Allah
swt, untuk meminta kepadaNya sebab waktu cubaanNya belumlah memadai dibandingkan
masa senangku.”
Dan ketika pada
badan Nabi Ayyub sudah tidak ada lagi daging yang akan dimakan, maka ulat-ulat
itu saling memakan di antara mereka, hingga akhirnya tinggal 2 ekor ulat yang
selalu berkeliaran di badan Nabi Ayyub dalam usaha mencari makan daging, tidak
mereka dapatkan kecuali hati dan lidahnya. Maka yang satu pergi ke hati dan
memakan hatinya dan satu lagi pergi ke lidah dan menggigitnya.
Disaat itulah Nabi Ayyub a.s berdoa kepada Tuhannya
seraya berkata: “Sesungguhnya aku telah
ditimpa bahaya yang dahsyat, sedangkan Engkau Zat Yang Maha Pengasih.”Hal
ini tidaklah termasuk dalam kategori keluh kesah dan tidak pula bererti keluar
dari golongan orang yang sabar. Oleh kerana itu Allah swt berfirman: “Sesungguhnya dia Kami dapatkan sebagai
orang yang sabar.”
Kerana sesungguhnya, Nabi Ayyub itu tidak bersusah hati terhadap hartanya dan anak-anaknya,
yang telah hilang musnah, bahkan dia
merasa susah kerana cemas terputus “dari syukur dan zikir” kepada Allah swt.
Maka seakan akan dia berkata: “Tuhanku,
aku bersabar atas segala cubaanMu selama hatiku masih sibuk untuk bersyukur
kepada Mu dan lidahku dapat berzikir kepada Mu, dan apabila keduanya itu telah
rosak (hilang) daripadaku, bererti terputuslah cintaku dan zikirku pada Mu.
Maka aku tidak menjadi bersabar terhadap terputusnya keduanya itu, sedangkan
engkau Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Kemudian Allah swt memberikan wahyu kepadanya: “Ya Ayyub, lidah, hati dan ulat adalah
milik Ku, sedangkan rasa sakitpun milik Ku, apakah ertinya susah?”
Diterangkan pula: “Bahawa Allah swt memberikan wahyu
kepadanya: “Sesungguhnya ada 70 orang
Nabi yang meminta, seperti halmu ini kepada Ku, dan Aku hanya memilih engkau
sebagai tambahan kemuliaanmu dan ini hanya bentuk lahirnya saja bencana, akan
tetapi hakikatnya cinta-kasih.” Dan sesungguhnya Nabi Ayyub merasa susah
kalau hati dan lidahnya dimakan ulat, kerana dia selalu sibuk bertafakkur dan
berzikir kepada Allah swt, kalau keduanya dimakan, maka dia tidak dapat lagi
bertafakkur dan berzikir kepadaNya.
Lalu Allah swt
menjatuhkan kedua ulat itu dari diri Nabi Ayyub, maka yang satu jatuh di air,
kelak menjadi lintah yang dapat menyebabkan orang sakit kekurangan darah dan
yang satu lagi jatuh di darat yang kelak menjadi lebah yang mengeluarkan madu
yang mengandungi ubat untuk manusia.
Kemudian datanglah
Malaikat Jibril a.s dengan membawa 2 buah delima dari syurga. Kata Nabi
Ayyub a.s : “Ya Jibril, apakah Tuhanku
masih ingat kepadaKu?” Kata Jibril: “Ya,
dan Dia mengirimkan salam kepadamu, serta menyuruh mu memakan kedua buah delima
ini, maka akan sembuh normal daging dan tubuhmu.”
Ketika Nabi Ayyub memakan kedua delima itu, Jibril a.s
berkata: “Berdirilah dengan izin Allah!”
Maka Nabi Ayyub pun berdiri. Jibril berkata lagi: “Berjalanlah dengan kedua kakimu.” Maka Nabi Ayyub memukulkan
kakinya yang kanan ke tanah sehinggalah keluar air hangat dan dia lalu mandi
dengan air itu, kemudian dari kakinya yang kiri terpancarlah air dingin,
sehingga dia minum dari air tersebut.
Kemudian, hilanglah segala penyakitnya, baik yang
dibahagian luar mahupun di bahagian dalam. Dan tubuhnya menjadi lebih gagah
tegap dari semula, wajahnya lebih bersinar daripada bulan purnama. Sebagaimana
firman Allah swt:
“ Maka Kami
terima dan kabulkan doanya, dan Kami hilangkan semua penyakit yang membahayakan
dan Kami kembalikan semua keluarganya dan seperti mereka dahulu bersama-sama
dengannya.”
Kata Imam Muqattil: Allah telah menghidupkan mereka dan
memberi rezeki kepada Nabi Ayyub semula.
Kata Adh Dhahhak: Allah swt memberi wahyu kepadanya: “Apakah kamu ingin supaya mereka
(anak-anakmu) Kami bangkitkan?” Kata Nabi Ayyub: “Ya Tuhanku, biarkanlah mereka itu disyurga”, maka dengan ini, maka
datanglah keluarganya di akhirat, dan Allah swt memberikan kepadanya, hal-hal
seperti yang diberikan kepada mereka di dunia, dengan telah lahirnya beberapa
orang anak, yang demikian itu sebagai “Rahmat” atau “Nikmat” dari Kami”, untuk
Nabi Ayyub dan “sebagai peringatan”, atau nasihat bagi orang-orang yang
beribadah”, supaya mereka mengetahui bahawa bala bencana atau cubaan yang
paling hebat itu kepada para Nabi, lalu kepada para Wali, kemudian kepada yang
sepertinya dan demikian seterusnya. Maka hendaklah mereka berbuat seperti
mereka telah perbuat dan bersabar seperti mana mereka yang telah bersabar.
Dari sini dapatlah diketahui bahawa jalan kepada Allah
untuk perbuatan yang baik itu lebih dekat daripada pemberian yang baik.
Maka tamatlah sudah kisah Kesabaran Nabi Allah Ayyub
a.s.
Saya sangat berharap para pembaca dapat mengambil
iktibar dari kisah tersebut.
Kisah di atas dipetik daripada Kitab Duratun Nasihin.
Pada bab Kisah Kesabaran Nabi Ayyub. m/s: 722-731.
diambil daripada blog seorang hamba Allah..semoga
bermanfaat